Purbaya Buka Suara Soal Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Purbaya Buka Suara Soal Rupiah Dekati Rp18.000 per Dolar AS, Tegaskan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat
Foto sebagai pelengkap isi narasi berita (ist)
JAKARTA, BUKATABIR.COM,– Pelemahan nilai tukar rupiah yang sempat menembus level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) memicu perhatian luas dari pelaku pasar, dunia usaha, hingga masyarakat. Menanggapi kondisi tersebut, Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pemerintah tidak panik dan tetap fokus menjaga fundamental ekonomi nasional agar tetap kuat di tengah tekanan global.
Dalam keterangannya kepada wartawan di Kompleks DPR RI, Purbaya mengatakan pelemahan rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar AS tidak hanya dipengaruhi faktor ekonomi, tetapi juga sentimen negatif yang berkembang di pasar keuangan. Ia membantah berbagai spekulasi yang menyebut pemerintah telah meminta perbankan melakukan simulasi krisis atau stress test terhadap skenario rupiah di atas Rp18.000 per dolar AS.
“Banyak isu-isu di pasar yang membuat sentimen negatif ke rupiah,” ujar Purbaya saat menjelaskan kondisi terkini pasar keuangan.
Menurutnya, pemerintah saat ini lebih memilih berfokus pada penguatan sektor riil, percepatan investasi, penciptaan lapangan kerja, dan menjaga pertumbuhan ekonomi dibanding merespons berlebihan gejolak jangka pendek di pasar valuta asing.
Sentimen Negatif dan Tekanan Global
Purbaya menilai pelemahan rupiah tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi ekonomi domestik. Ia menyebut berbagai spekulasi mengenai perlambatan ekonomi hingga isu resesi telah menciptakan tekanan psikologis yang memengaruhi pasar keuangan nasional. Sebelumnya, saat rupiah menyentuh level Rp17.000 per dolar AS pada Maret 2026, Purbaya juga menegaskan bahwa Indonesia belum berada dalam kondisi resesi maupun krisis ekonomi.
“Pondasi ekonomi Indonesia masih terjaga. Pemerintah terus memastikan daya beli masyarakat, investasi, dan aktivitas ekonomi tetap bergerak,” kata Purbaya.
Di sisi lain, pelemahan rupiah juga dipengaruhi penguatan dolar AS yang terjadi secara global. Investor internasional cenderung memburu aset-aset berdenominasi dolar akibat ketidakpastian ekonomi dunia, tensi geopolitik, serta kebijakan suku bunga tinggi yang masih diterapkan Amerika Serikat.
Pemerintah dan BI Perkuat Koordinasi
Pemerintah bersama Bank Indonesia terus melakukan koordinasi untuk menjaga stabilitas pasar keuangan. Bank Indonesia memastikan akan terus hadir di pasar melalui berbagai instrumen moneter guna menjaga keseimbangan nilai tukar rupiah dan memastikan ketersediaan likuiditas valuta asing.
Selain itu, BI juga memperluas penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan internasional melalui skema Local Currency Transaction (LCT) dengan sejumlah negara mitra, sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS.
Pasar Diminta Tidak Berlebihan
Purbaya mengimbau investor dan masyarakat agar tidak bereaksi berlebihan terhadap pergerakan nilai tukar dalam jangka pendek. Menurutnya, kekuatan rupiah pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kondisi fundamental ekonomi nasional, bukan semata-mata sentimen sesaat di pasar.
“Kewajiban saya adalah menjaga fondasi ekonomi supaya ekonominya berjalan semakin cepat. Pada akhirnya nilai rupiah akan ditentukan oleh fundamental ekonominya,” tegas Purbaya.
Meski rupiah sempat menembus level Rp18.000 per dolar AS, pemerintah optimistis tekanan tersebut bersifat sementara dan akan mereda seiring membaiknya sentimen pasar serta tetap kuatnya kinerja ekonomi domestik. Pemerintah juga memastikan akan terus mengawal stabilitas fiskal dan moneter guna menjaga kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

Komentar via Facebook