Harga Timah Dunia Meroket, Penambang Mengeluh Barang Semakin Sulit Dicari

Harga Timah Dunia Meroket, Penambang Mengeluh Barang Semakin Sulit Dicari

Harga Timah Dunia Meroket, Penambang Mengeluh Barang Semakin Sulit Dicari

Foto Ilustrasi sebagai pelengkap isi narasi berita (ist)

BANGKA BELITUNG, BUKATABIR.COM,– Harga timah dunia sepanjang 2026 terus menunjukkan tren penguatan dan bahkan sempat mencetak rekor tertinggi dalam beberapa tahun terakhir. Di pasar global, harga timah bergerak di kisaran US$52.000 hingga mendekati US$58.000 per ton, didorong oleh ketatnya pasokan dunia dan meningkatnya permintaan dari industri elektronik, semikonduktor, pusat data, hingga teknologi kecerdasan buatan (AI). 

Namun di tengah tingginya harga tersebut, kondisi di lapangan justru menunjukkan fenomena berbeda. Banyak pelaku tambang dan masyarakat di wilayah penghasil timah mengaku semakin sulit mendapatkan cadangan timah yang produktif.

Sejumlah kawasan yang selama bertahun-tahun menjadi lokasi penambangan kini mengalami penurunan hasil produksi. Para penambang harus bekerja lebih lama dengan biaya operasional yang semakin tinggi untuk mendapatkan hasil yang sama seperti beberapa tahun lalu.

Selain faktor menipisnya cadangan yang mudah ditambang, pengetatan tata kelola pertambangan dan penertiban aktivitas tambang ilegal juga ikut mempengaruhi pasokan timah yang beredar di pasar. Indonesia sebagai salah satu produsen utama dunia memiliki peran besar dalam menentukan keseimbangan pasokan global. Ketika produksi berkurang dan pengawasan diperketat, pasar internasional langsung merespons dengan kenaikan harga. 

Seorang warga Parittiga yang sehari-hari bergantung pada sektor pertambangan mengaku kondisi saat ini sangat berbeda dibanding beberapa tahun lalu.

"Harga memang naik, tapi barangnya susah dicari. Dulu orang turun kerja masih bisa dapat hasil yang lumayan. Sekarang kadang kerja seharian hasilnya tidak seberapa," ujar seorang warga.

Keluhan serupa juga disampaikan masyarakat pesisir Bangka Barat. Mereka menilai tingginya harga timah belum sepenuhnya dirasakan manfaatnya oleh masyarakat bawah karena produksi yang menurun membuat pendapatan tidak otomatis meningkat.

"Kalau harga tinggi tapi hasil sedikit, sama saja. Yang kami rasakan sekarang biaya semakin besar sementara hasil belum tentu ada," kata seorang penambang lainnya.

Kondisi ini merupakan konsekuensi dari semakin terbatasnya pasokan global. Gangguan produksi di sejumlah negara penghasil timah dunia, termasuk Myanmar, serta kebijakan pengetatan produksi di beberapa wilayah membuat pasokan dunia mengalami defisit. Sementara permintaan terus meningkat dari sektor teknologi dan energi terbarukan. 

Data pasar menunjukkan harga timah sepanjang 2026 masih berada jauh di atas rata-rata tahun sebelumnya. Bahkan beberapa lembaga riset memperkirakan harga akan tetap bertahan tinggi selama pasokan global belum kembali normal. 

Sementara itu masyarakat Bangka Belitung berharap momentum harga tinggi ini dapat dimanfaatkan untuk memperbaiki tata kelola pertambangan, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memastikan kekayaan sumber daya alam daerah dapat memberikan manfaat jangka panjang bagi generasi mendatang.