Harga Tanah Jarang Dunia Menguat, Indonesia Berpeluang Jadi Pemain Penting Industri Strategis Global
Harga Tanah Jarang Dunia Menguat, Indonesia Berpeluang Jadi Pemain Penting Industri Strategis Global
Foto Ilustrasi sebagai pelengkap isi narasi berita (ist)
Bangka Belitung, Bukatabir.com,-Logam tanah jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE) menjadi salah satu komoditas mineral paling strategis di dunia. Material ini merupakan bahan baku utama untuk kendaraan listrik, turbin angin, industri elektronik, semikonduktor, teknologi kecerdasan buatan (AI), hingga peralatan pertahanan modern. Permintaan global terus meningkat seiring percepatan transisi energi dan perkembangan teknologi tinggi.
Tanah jarang sebenarnya bukan mineral yang sangat langka, namun keberadaannya tersebar dalam kadar rendah sehingga proses penambangan dan pemurniannya sangat kompleks serta membutuhkan investasi besar. Beberapa unsur yang paling banyak digunakan industri adalah neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium.
Harga Tanah Jarang Dunia
Berdasarkan data perdagangan internasional hingga awal Juni 2026, beberapa unsur tanah jarang menunjukkan penguatan harga:
Unsur Tanah Jarang
Harga Perkiraan
Neodymium
sekitar US$244,90/kg
Praseodymium
sekitar US$245,40/kg
Dysprosium
sekitar US$930,70/kg
Terbium
sekitar US$4.028,50/kg
Neodymium Oxide (China)
sekitar 945.000 Yuan/ton
Kenaikan harga dipicu oleh meningkatnya kebutuhan industri kendaraan listrik, pusat data AI, teknologi energi bersih, serta ketatnya pasokan global akibat kebijakan ekspor sejumlah negara produsen utama.
China Masih Dominasi Pasar Dunia
Saat ini, China masih mendominasi rantai pasok tanah jarang global, mulai dari penambangan hingga pemurnian. Berbagai pembatasan ekspor yang diterapkan Beijing sejak 2025–2026 membuat banyak negara berupaya mengurangi ketergantungan terhadap pasokan China.
Amerika Serikat dan Uni Eropa kini mempercepat investasi pada proyek-proyek tanah jarang domestik. Pemerintah AS bahkan menggelontorkan pendanaan ratusan juta dolar untuk mengembangkan industri tanah jarang dan magnet permanen di dalam negeri.
Potensi Indonesia
Indonesia memiliki potensi logam tanah jarang yang cukup besar, terutama yang terkait dengan mineral ikutan hasil pengolahan timah di wilayah Kepulauan Bangka Belitung dan beberapa daerah lainnya. Pemerintah mendorong hilirisasi agar tanah jarang tidak hanya diekspor sebagai bahan mentah, tetapi dapat diolah menjadi produk bernilai tambah tinggi seperti magnet permanen dan komponen industri teknologi.
Saat ini Lembaga energi internasional memperkirakan permintaan unsur magnet tanah jarang akan terus meningkat hingga 2030, didorong oleh pertumbuhan kendaraan listrik dan energi terbarukan. Kondisi ini membuat tanah jarang menjadi salah satu komoditas strategis yang diperebutkan berbagai negara untuk menjaga ketahanan industri dan teknologi mereka.

Komentar via Facebook